Rabu, 19 Maret 2014


Firasatku 

          Hiruk pikuk ibukota, kejamnya kehidupan di ibukota, tidak menyulutkan niat Raina untuk mencari peruntungan di kota metropolitan. Dengan selembar uang pemberian dari sang nenek, dan keripik balado yang sengaja ia bawa dari kampung. Raina yakin dapat bertahan hidup dan meluaskan usaha neneknya itu. Rintik hujan mengiringi kepergian Raina. Meski jarak yang jauh dari rumah ke Stasiun, jalan becek yang dilalui Raina, tapi itu tidak menyulutkan tekad Raina untuk pergi mencari peruntungan di ibukota.
          Hawa Panas yang mulai dirasakan, butiran keringat yang bermunculan, itu menandakan bahwa mobil telah memasuki wilayah ibukota. Dalam perjalanan, Raina telah mentargetkan titik- titik daerah yang tepat untuk menjajakan dagangannya. Raina memilih Monas, Pasar Senin dan Pasar Tanah abang. Tanpa kenal lelah, setibanya di Stasiun Kota, Raina memilih target pertamanya yaitu Pasar Senin. Karna Pasar Senin berada tidak jauh dari Stasiun kota. Dan Raina pun langsung menuju Pasar senin untuk menjajakan dagangannya. 
          Raina mencari tempat yang rindang, dan langsung menggelar tikar yang segaja Raina bawa dari rumah. Dengan pengharapan yang begitu besar Raina mulai menggelar tikar dan memajang keripik yang ia bawa. Beraneka ragam rasa keripik yang Raina jual. Dan ia pun menjual dengan harga yang begitu murah. Satu pembeli mulai menghampiri tempatnya. Dia akan membeli keripiknya, namun dia harus mencicipi keripik tersebut sebelum dia membelinya. Tanpa memikirkan kerugian, Raina langsung membuka 1 bungkus keripik untuk dicicipi pembeli tersebut. Namun, setelah keripik tersebut hampir habis di cicipi, pembeli tersebut membatalkan untuk membeli keripik Raina tanpa alasan dan langsung meninggalkan Raina dan sisa keripik yang ia makan.
           “Berpikir positiflah pada semua orang, hidup itu sulit dan perlu perjuangan” pesan nenek yang selalu Raina ingat. Dan pesan neneknya tersebutlah yang membuat Raina tegar. Disela penantiannya menunggu pembeli, Raina tersadar bahwa dia belum memiliki tempat tinggal di Kota penuh perjuangan itu. Belum selesai Raina memikirkan permasalahan tempat tinggalnya itu, hujan yang tiba- tiba turun dengan deras membasahi keripik dagangannya. Ingin marah!!! Rasa kesal !!! itu yang kini Raina rasakan. Padahal, satu bungkus keripikpun belum terjual. Raina segera membersihkan plastik pembungkus keripik balado yang terkena air hujan. 
          Pengharapan Raina kini mulai luntur. “ Bagaimana bisa aku menjual keripik balado dengan kemasan yang tidak menarik seperti ini “ rintih Raina dalam hati. Setelah selesai berkemas, Raina pergi meninggalkan tempat target pertamanya itu. Raina entah akan pergi kemana mencari tempat untuk tinggal. Jalan panjang yang telah dilalui Raina, tak satupun Raina menemukan kos- kosan yang murah. Dan pada akhir nya tibalah Raina pada suatu daerah pinggiran kali, yang membuka kos putri dengan harga yang cocok dengan keuangan Raina.
          Pagi yang cerah, dengan pengharapan yang mulai tertata kembali, Raina bersiap untuk pergi ke tempat yang menjadi target keduanya itu, yaitu Monas. Setibanya di Monas, Raina pun mulai menjajakan dagangannya. Dan Alhamdulillah, beberapa keripik baladonya laku terjual. Namun, belum lama ia menjajakan dagangannya, satpol PP tiba dan mulai merazia pedagang asongan dan lapak- lapak liar yang menjamur disekitar Monas. Razia yang dilakukan satpol PP hampir saja membuat Raina kehilangan harapannya. Namun pada akhirnya, razia satpol PP lah yang membuat Raina lebih mengerti keadaan kota kejam tersebut. Tak mendapatkan hasil yang manis dari target keduanya tersebut, Raina memutuskan untuk kembali ke kos- kosan sederhananya itu.
          Keesokan harinya, dengan pengharapan yang tersisa dan semangat yang mulai menipis, Raina melanjutkan pergi ke target ke-3 yaitu Pasar Tanah Abang. Lapak yang mulai Raina gelar, senyum dan tawaran manis yang Raina tebarkan, namun tak satu pun pengunjung pasar meliriknya. Raina mulai lelah, karna perjuangannya selama ini tak juga mendapatkan hasil. Raina ingin cepat- cepat menyudahi ini semua dan kembali ke kampung halamannya dan tinggal bersama neneknya. Tak sengaja Raina bertemu dengan seorang wanita yang kelihatan sangat lelah. Raina memberikan air minum yang baru dibelinya dan satu bungkus keripik balado dengan kemasan yang kurang menarik. Wanita itu sangat berterima kasih pada Raina. Dan pulang ke rumahnya dengan membawa keripik balado pemberian Raina. 
          Tak lama kemudian, seorang wanita itu kembali lagi ke tempat dimana ia bertemu dengan Raina. Wanita tersebut menanyakan dimana Raina membeli keripik balado tersebut. Raina menjawab bahwa dialah yang menjual keripik balado tersebut. Ternyata, wanita tersebut yaitu seorang pembantu yang diminta majikannya untuk mencarikan keripik lezat, yang akan disajikan ketika acara pernikahan anak sulung majikannya. Wanita tersebut akan membeli semua keripik balado yang Raina jual dengan harga berapapun yang Raina tawarkan. Dan juga wanita tersebut memberi modal kepada Raina untuk mengembangkan lagi usaha keripik baladonya. Rasa syukur yang teramat yang Raina panjatkan pada sang pemberi Rizki. Pesan nenek yang selalu membuat Raina tegar lah yang membawa Raina pada keadaan seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

, ,